Pendidikan memang tidak habisnya dibicarakan. Mulai dari pelajar, guru, lembaga, sistem, yang bisa saja bersentuhan dengan pendidikan. Sepanjang sejarah perkembangan pendidikan telah membuktikan, bahwa kemajuan pendidikan senantiasa berpengaruh terhadap perkembangan dibidang lain seperti bidang ekonomi, sosial, teknologi, dan lain-lain. Akan tetapi bagaimana dengan SDM kita? Yang sangat jauh tertinggal dari negara-negara berkembang lainnya. Tentu hal ini membuka mata kita kalau mutu pendidikan di Indonesia juga rendah. Menyadari akan hal tersebut, maka tuntutan akan perubahan kebijakan, seperti desentralisasi pendidikan, pola pendekatan managemen/pengelaloaan dan kelembagaan pendidikan serta sistem pendidikan/kurikulum dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan menjadi suatu keharusan (diistilahkan sebagai menara mutiara pendidikan).
Persoalan yang masih terjadi konsep mutiara pendidikan yang sangat cemerlang tersebut sebagai suatu pembaharuan dan perubahan dalam dunia pendidikan yang sangat esensial adalah implementasinya. Setidaknya karena pelajarannya sendiri yang mempunyai budaya buruk, baik dbanyak cara contohnyaari ruang lingkup belajar maupun secara universal. Sebenarnya orang yang malas dan rajin sama-sama menghabiskan 24 jam, yang membedakannya hanyalah manajemen dan pemanfaatan waktu tersebut. Untuk mengatasi malas tersebut banyak cara, contohnya saja dengan banyak membaca. Membaca disini adalah membaca yang baik dan benar, sedangkan untuk implementasinya bisa dengan menulis, mengajar dan lain-lain. Dan untuk lebih baiknya lakukan banyak permainan pikiran, yang pada intinya kerjakan dan selalu berpikiran positif. Memiliki tujuan adalah salah satu hal yang bisa menghilangkan rasa malas, dan tentunya banyak berdoa dan berikhtiar.
Akan tetapi mengapa pemerintah masih menomorduakan pendidikan? Lihatlah dengan kacamata optimisme dan telitilah. Hal ini sebagai sarana evaluasi dan introspeksi bangsa. Betapa nantinya para cikal bakal bangsa harus dengan lapang dada harus melihat keterpurukan seperti kemiskinan, pengangguran, kebobrokan moral, kemerosotan ekonomi, friksi sosial, terorisme, penghianatan wakil rakyat, pemerintahan yang semerawaut, kesehatan buruk, kebudayaan yang pudar, hukum dan peradilan, kebodohan dan keterpurukan pendidikan, entah apalagi. Bagaimana dengan menara mutiara pendidikan?
Menara mutiara hanyalah sebuah konsep yang letaknya sangatlah tinggi, indah, cemerlang, namun hanya berada dalam penguasa semesta saat ini.
Mewujudkan Pendidikan Yang Berorientasi Entrepreneur, Intelektual, Profesional Dan Kompetitif di Wilayah Timur Indonesia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Gabung yuk
Postingan Populer
-
Pendidikan memang tidak habisnya dibicarakan. Mulai dari pelajar, guru, lembaga, sistem, yang bisa saja bersentuhan dengan pendidikan. Sepan...
-
Siapa siswa “yang bermasalah” dan pendidikan apa yang cocok untuk mereka. Istilah ‘siswa bermasalah’ digunakan dalam pendidikan yang merujuk...
-
SMK FARMASI YANSAL WATAMPONE berdasarkan Rekomendasi Dinas Pendidikan Kabupaten Bone No. 420/1986/DP tertangal 29 Mei 2013 membuka peluang ...
-
Pembangunan merupakan suatu proses yang berkelanjutan mencakup seluruh aspek kehidupan manusia termasuk aspek social, ekonomi, budaya, polit...
-
Jangan Malas Untuk Belajar - Berita SMK NEGERI 1 BAREBBO
-
Pendidikan bukan lagi hal yang tabu, untuk semua orang pendidikan sangatlah penting. pendidikan dapat merubah pola pikir dari tidak tahu men...
-
Sekolah Menengah Farmasi (SMF) adalah sekolah menengah kejuruan di Indonesia untuk mendidik asisten apoteker. Sekolah ini sebelumnya berna...
-
Secara fitrah tidak seorangpun di muka bumi ini yang menginginkan suatu musibah yang menimpa pada dirinya, musibah dalam arti suatu kejadi...
-
A. Sebab-sebab Pluralitas Ilmu Pengetahuan Dalam kaitannya dengan kecenderungan pluralitas ilmu pengetahuan disebabkan oleh dua hal. Keduan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Koment-nya...